Sayyidul (Penghulu) Istighfar

1 11 2009

Dari nabi saw.,”Penghulu istighfar adalah
‘Allahumma anta robbiy laa ilaaha illaa anta kholaqtaniy wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wawa’dika masta tho’tu a’udzubika min syarri maa shona’tu abuw u laka bini’matika ‘alawwa wa abuw u bidzambiy faghfirliy fa innahuu laa yaghfirudz dzunuwba illaa anta’,
artinya: ‘ya ALLOH, Engkau adalah Robbku, tidak ada tuhan yg berhak disembah kecuali Engkau, Engkau ciptakan aku, dan aku adalah hambaMU, dan aku adalah hambaMU, dan aku di atas perjanjianMU, dan janjiMU sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung denganMU dari kejahatan apa yang aku perbuat, aku mengakui dengan nikmatMU atasku, aku mengakui dengan dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yg mengampuni dosa selain Engkau’
barangsiapa membacanya di siang hari yakin dengannya, kemudian mati hari itu, sebelum sore hari maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yg membacanya pada malam hari yakin dengannya dan mati sebelum pagi hari dia termasuk ahli surga.”(H.R.Bukhari No. 5831)

(dikutip dari kumpulan do’a dan dzikir matsur Rasululloh)





10 Golongan yang Tidak Masuk Surga

1 11 2009

Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.

Selanjutnya Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”

Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba.”

Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”

Rasulullah saw. ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”

Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”

Mu’adz bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau tentang ayat ini: yauma yunfakhu fiish-shuuri fata’tuuna afwaajaa, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok?” (An-Naba’: 18)

“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar,” jawab Rasulullah saw. Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.

“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliyahnya di dunia). Di antara mereka ada yang berwujud kera; ada yang berwujud babi; ada yang berjalan berjungkir-balik dengan muka terseret-seret; ada yang buta kedua matanya, ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa; ada yang memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jama’ah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya; ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong; ada yang disalib di atas batangan besi panas; ada yang aroma tubuhnya lebih busuk daripada bangkai; dan ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih.”

“Mereka yang berwajah kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba di antara manusia. Yang berwujud babi adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap.”

“Yang berjalan jungkir-balik adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan riba. Yang buta adalah orang-orang yang ketika di dunia suka berbuat zhalim dalam memutuskan hukum. Yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang ketika di dunia suka ujub (menyombongkan diri) dengan amalnya.”

“Yang memamah lidahnya adalah ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak-belakang dengan amal perbuatannya. Yang terpotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.”

“Yang disalib di batangan besi panas adalah orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu. Yang tubuhnya berbau busuk melebihi bangkai adalah orang yang suka bersenang-senang dengan menuruti semua syahwat dan kemauan mereka tanpa mau menunaikan hak Allah yang ada pada harta mereka.”

“Adapun orang yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih adalah orang yang suka takabur dan membanggakan diri.” (HR. Qurthubi)

Saudaraku, adakah kita di antara 10 daftar yang dipaparkan Rasulullah saw. di atas? Bertobatlah, agar selamat!

sumber:http://www.dakwatuna.com/2007/10-golongan-yang-tidak-masuk-surga/





Delapan Tanda Orang Ikhlas

1 11 2009

Dua Syarat Amal

dakwatuna.com – Amal yang kita lakukan akan diterima Allah jika memenuhi dua rukun. Pertama, amal itu harus didasari oleh keikhlasan dan niat yang murni: hanya mengharap keridhaan Allah swt. Kedua, amal perbuatan yang kita lakukan itu harus sesuai dengan sunnah Nabi saw.

Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya saat melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rasulullah saw. bersabda, “Innamal a’maalu bin-niyyaat, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah swt. sangat bergantung pada niat kita.

Sedangkan syarat yang kedua, harus sesuai dengan syariat Islam. Syarat ini menyangkut segi lahiriah. Nabi saw. berkata, “Man ‘amala ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun, barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami diperintahkan, maka perbuatan itu ditolak.” (Muslim).

Tentang dua syarat tersebut, Allah swt. menerangkannya di sejumlah ayat dalam Alquran. Di antaranya dua ayat ini. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh….” (Luqman: 22). “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa: 125)

Yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” di dua ayat di atas adalah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang yang dimaksud dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.

Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.

Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.

Delapan Tanda Keikhlasan

Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:

1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas

Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari iming-iming kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung ornag lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”

Meski demikian, ucapan para ulama tersebut bukan menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah). Ucapan itu adalah peringatan agar dalam mengarungi kehidupan kita tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat pujian manusia. Apalagi, para nabi dan orang-orang saleh adalah orang-orang yang popular. Yang dilarang adalah meminta nama kita dipopulerkan, meminta jabatan, dan sikap rakus pada kedudukan. Jika tanpa ambisi dan tanpa meminta kita menjadi dikenal orang, itu tidak mengapa. Meskipun itu bisa menjadi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak siap menghadapinya.

2. Ikhlah ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan

Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.

Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud firman Allah: “Dan orang-ornag yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla? Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlomba.” (Ahmad).

3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan

Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.

Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah saw. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, ‘Riya sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)

4. Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit

Rasulullah saw. melukiskan tipe orang seperti ini dengan berkataan, “Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya. Dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya.”

Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.

5. Keikhalasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia

Tidak sedikit manusia hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. Tapi tak jarang orang itu memakai kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah swt. Di sinilah keikhlasan kita diuji. Memilih keridhaan Allah swt. atau keridhaan manusia yang mendominasi diri kita? Pilihan kita seharusnya seperti pilihan Masyithoh si tukang sisir anak Fir’aun. Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.

6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah

Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda. Sebaliknya, Allah swt. mencela orang yang berbuat kebalikan dari itu. “Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan

Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah. Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, “Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!”

8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan

Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.

sumber:http://www.dakwatuna.com/2009/delapan-tanda-orang-ikhlas/





Mengikuti Perbuatan Buruk dengan Perbuatan Baik

1 11 2009

Selalu ada minimal 2 sisi yang bertentangan didunia ini bak 2 sisi mata uang. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada hitam ada putih. Ada Ada maksiat ada taubat.

2 sisi yang berbeda yang sering silih berganti pada anak adam adalah perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik, berupa semua hal yg diridhoi Alloh, sedangkan perbuatan buruk berisi hal2 yang tidak diridhoi Alloh.

Sebagai hamba Alloh yang meyakini hari akhir dan benar2 berusaha agar apa yang dijanjikan Alloh terkait peristiwa akhirat dan apa2 yang pasti ada padanya seperti surga dan neraka benar2 seperti apa yang diajarkan rosul, bahwa hendaknya seorang mukmin itu melihat perihal akhirat, surga, neraka benar2 “ka annaha ro’yal ‘ain”, seolah melihatnya di depan mata kepala sendiri, maka mukmin itu tentulah memahami betul bahwa tak ada yang dapat menjamin keberadaannya di dunia ini masih bertahan barang sebentar.

Sehingga, ketika bahkan ruhiyahnya menurun karena berbagai faktor, ia tetap memiliki tools ampuh untuk meningkatkan ruhiyahnya lagi dengan senantiasa mengikuti perbuatan buruknya dengan perbuatan baik, atau mengikuti maksiatnya dengan taubat dan memberbanyak ketaatan pada Alghofur.

Semoga menjadi manfaat dan pemacik api perbaikan. Wa bil khusus bagi yg mengetikkan ini.

Selamat berlibur dan berubah lebih baik.





Resume:Tarbiyah Syaksiyah Qur’aniyah(1)

1 11 2009

Rambu penilaian seseorang memiliki Asy Syu’ur Alqur’ani:
1.Yakin quran sbg bagian kenikmatan shg menjadi dambaan ketika muslim lain memiliki hubungan yg baik dg qur’an.
2.Sangat berharap utk bertemu quran setiap hari shg selalu merindukan kegiatan tilawah dan dalam bacaan solatnya
3.Takut akan hari akhirat shg byk membaca quran agar dapat menjadi syafaat baginya
4.Bekerja keras agar tertanam kebajikan di hati putera-puterinya sehingga hal itu menjadi kehormatan baginya di akhirat.

Hidup bersama qur’an memerlukan energi yg selalu baru

Bab 1 FADHA’IL/KEUTAMAAN ALQUR`AN

Tertarik tidaknya kita pada sesuatu bergantung pada ilmu kita tentang kelebihan atau kegunaan sesuatu. Ketertarikan manusia thd qur’an pun sangat bergantung pada iman dan keyakinannya pada janji Allah dan RasulNYA.

FADHAIL QURAN DI DUNIA
1.Allah mengangkat derajat ahl al qur’an
2.Alqur’an adalah kenikmatan yang harus didambakan
3.Allah menyandingkan derajat ahlul qur’an dengan para malaikat atau nabi yg telah diberi wahyu.
4.Ahlul qur`an adalah org yang paling berhak menjadi imam sholat
5.Ahlul qur`an adalah orang yg selalu mendapat ketenangan,rahmat, naungan malaikat,dan namanya disebut2 Alloh.
6.Ahlul quran adalah org yang mendapatkan kebaikan dari Allah

FADHA`IL QUR`AN DI AKHIRAT
1.Alquran menjadi syafaat bagi manusia dan sahabatnya
2.Alquran menjadi pembela bagi manusia saat menghadapi pengadilan Allah
3.Alquran mengangkat kedudukan manusia di surga
4.Alquran sumber pahala bagi org beriman

BAB 2: MENGAPA HARUS 1 JUZ SETIAP HARI?





HAKIKAT WAKTU KITA

1 11 2009

(SEBUAH TINJAUAN AWAM SATU SISI)
1 hari di dunia = 1000 tahun di akhirat (lih.QS.Assajdah:5).
Langit dan bumi diciptakan ALLAH dalam ’sittati ayyam’/6 hari (waktu akhirat; lih. QS.Qof:38). Yang menurut penelitian ilmuan, bumi ini terbentuk kurang lebih 6ribu tahun (waktu dunia).
Umur manusia zaman ini rata2 60 tahun (waktu dunia) yang jika dikonversikan =0.06 tahun waktu akhirat=21.9 hari waktu akhirat.
Maka sesuailah apa yg difirmankan ALLAH dalam Q.S.Annaziat:46, “pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.”

HIKMAH YG BISA DIPETIK:
Waktu hidup manusia di dunia ini amat sebentar. Sedangkan manusia memikul amanah berat dari ALLAH untuk beribadah kepadaNya.
Waktu 60 tahun di atas belumlah waktu efektif manusia karena belum dikurangi dengan waktu bayi, waktu tidur, waktu bermalas2an dan waktu lain yg sia2 tanpa hal yg bernilai ibadah.
Dengan waktu ketaatan yg begitu sedikit itu, pertanyaannya, apakah manusia itu yakin dapat masuk surga dan memperoleh ridho ALLOH bila tanpa rahmat dari ALLOH?
Apakah manusia yakin dapat terbebas dari api neraka jika ia meremehkan apa perintah ALLOH dan laranganNYA.?
Maka alangkah sombongnya manusia yg enggan taat, enggan bertaubat, enggan melaksanakan perintah ALLOH dan menjauhi laranganNYA. Alangkah jauhnya dari rahmat dan ampunan ALLOH.
Allah maha pengasih dan penyayang pada hambaNYA yang mau taat kepadanya dan dengan kesungguhan bertaubat padaNYA. Alloh amat gembira ketika ada hambaNYA yang meminta berdo’a kepadaNYA dengan kesungguhan untuk dijauhkan dari azab nerakaNYA dan didekatkan ke surgaNYA dengan sungguh2 sampai “ka annaha ro’yal ‘ain”, seperti melihat di depan mata kepala sendiri dahsyatnya neraka itu. Seperti disebutkan dlm hadist.
Allah juga menyediakan sarana pelipatgandaan usia bagi hambaNYA, sehingga usianya yg sedikit itu dicatat sebagai usia yg panjang. Dalam tiap tahunnya, ada laylatul qodr yg 1 hari beribadah di dalamnya lebih baik dari pada 83 tahun.
Alloh juga menyediakan sarana penghapusan dosa dengan wahana puasa arofah dan puasa muharam. Dan bagi yang puasa ramadhan kemudian menambahnya dengan puasa 6 hari di bulan syawal, maka dicatat ALLOH baginya pahala puasa setahun penuh.
Alloh juga memberikan sarana untuk banyak2 beribadah di hari jumat,dengan berbagai keutamaannya.
Juga suatu amal mubah pun akan dinilai ibadah jikalau diniatkan ibadah, seperti:makan dg diawali basmalah dan tangan kanan, tidur dg berdoa dulu, masuk wc kaki kiri dan berdoa dulu, tersenyum bila bertemu org dan mengucapkan salam. Ini semua dapat ditelaah dan dipelajari dari kitab2 hadist Rosul.

KALIMAT PENUTUP:
Jangan biarkan 1 detik pun dalam hidup kita berlalu dengan sia-sia tanpa ketaatan kepada Alloh, karena waktu ini begitu berharga.





5 Fungsi Keluarga

1 11 2009

Fungsi wahana keluarga yg islami dapat dibagi dlm 5 poin:
1.sebagai masjid, sebagaimana di dalam masjid, tidak ada perkataan kotor, tdk ada musik2 yg menebar syahwat, di dlm keluarga shrsny jg demikian.
2.sebagai rumah sakit, di dalamnyalah diobati berbagai penyakit baik rohani maupun jasmani shg pada diri semua agt keluarga terus terawat kondisinya 2×24 jam.
3.sebagai benteng, sbg benteng dari pengaruh negatif dunia luar.
4.sebagai madrasah, di dalamnya dibentuk generasi qur’ani yg menjadi penyokong kebangkitan ummat.
5.sebagai markas hizb Allah, prajurit2 kecil yang tangguh haruslah dimulai dari kesungguhan dan ketangguhan didikan ‘2 komandannya’.
Agar tidak terbentuk generasi yg lemah iman, ekonomi dan pendidikannya.
Kelima fungsi itu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan keluarga qur’ani. Sebab sibghoh Allahlah yg akan banyak berperan.
Sebab, diantara dasar pembentukan generasi yg syamil ialah:
1.niat nikah yg ikhlas
2.manhaj yg jelas, yakni manhaj/metode qur’ani.

(disarikan dr taujih ust. Bambang Triyono di PPM Miftahul Khoir, 2 hari sebelum pernikahan K’ verry)





Metode Menghafal Al-Quraan Bersama Mudhawi Ma’arif

1 11 2009

sumber : http://hafez.wordpress.com/

I. Pendahuluan

Ada 3 prinsip (Three P) yang harus difungsikan oleh ikhwan/akhwat kapan dan
dimana saja berada sebagai sarana pendukung keberhasilan dalam menghafal al
qur’an. 3P (Three P) tersebut adalah:

1. Persiapan (Isti’dad)

Kewajiban utama penghafal al-qur’an adalah ia harus menghafalkan setiap harinya minimal satu halam dengan tepat dan benar dengan memilih waktu yang tepat untuk menghafal seperti:

a. Sebelum tidur malam lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara grambyangan (jangan langsung dihafal secara mendalam).

b. Setelah bangun tidur hafalkan satu halaman tersebut dengan hafalan yang mendalam dengan tenang lagi konsentrasi

c. Ulangi terus hafalan tersebut (satu halaman) sampai benar-benar hafal diluar kepala

2. Pengesahan (Tashih/setor)

Setelah dilakukan persiapan secara matang dengan selalu mengingat-ingat satu
halaman tersebu, berikutnya tashihkan (setorkan) hafalan antum kepada ustad/ustadzah. Setiap kesalahan yang telah ditunjukkan oleh ustad, hendaknya penghafal melakukan hal-hal berikut:

a. Memberi tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa)

b. Mengulang kesalahan sampai dianggap benar uoleh ustad.

c. Bersabar untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan

3. Pengulangan (Muroja’ah/Penjagaan)

Setelah setor jangan meninggalkan tempat (majlis) untuk pulang sebelum hafalan yang telah disetorkan diulang beberapa kali terlebih dahulu (sesuai dengan anjuran ustad/ustadzah) sampai ustad benar-benar mengijinkannya

II. Syarat Utama Untuk Memudahkan Hafalan

1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah.

2. Berniat mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadi hamba-hamba pilihanNya yang menjaga al-qur’an.

3. Istiqomah sampai ajal musamma.

4. Menguasai bacaan al-qur’an dengan benar (tajwid dan makharij al huruf).

5. Adanya seorang pembimbing dari ustad/ustadzah (al-hafidz/al-hafidzah).

6. Minimal sudah pernah khatam al-qur’an 20 kali (dengan membaca setiap ayat 5 kali).

7. Gunakan satu jenis mushaf al-qur’an (al-qur’an pojok).

8. Menggunakan pensil/bolpen/stabilo sebagai pembantu.

9. Memahami ayat yang akan dihafal

III. Macam-macam Metode Menghafal

A. Sistem Fardhi

Ikuti langkah ini dengan tartib (urut):

1. Tenang dan tersenyumlah, jangan tegang.

2. Bacalah ayat yang akan dihafal hingga terbayang dengan jelas kedalam pikiran dan hati.

3. Hafalkan ayat tersebut dengan menghafalkan bentuk tulisan huruf-huruf dan tempat-tempatnya.

4. Setelah itu pejamkan kedua mata dan.

5. Bacalah dengan suara pelan lagi konsentrasi (posisi mata tetap terpejam dan santai).

6. Kemudian baca ayat tersebut dengan suara keras (posisimata tetap terpejam dan jangan tergesa-gesa).

7. Ulangi sampai 3x atau sampai benar-benar hafal.

8. Beri tanda pada kalimat yang dianggap sulit dan bermasalah (garis bawah/distabilo).

9. Jangan pindah kepada hafalan baru sebelum hafalan lama sudah menjadi kuat.

Penggabungan ayat-ayat yang sudah dihafal

Setelah anda hafal ayat pertama dan kedua jangan pindah kepada ayat ketiga akan tetapi harus digabungkan terlebih dahulu antara keduanya dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Bacalah ayat pertama dan kedua sekaligus dengan suara pelan lagi konsentrasi.

2. Kemudian bacalah keduanya dengan suara keras lagi konsentrasi dan tenang.

3. Ulani kedua ayat tersebut minimal 3x sehingga hafalan benar-benar kuat.

Begitulah seterusnya, pada tiap-iap dua tambahan ayat baru harus digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga terjadi kesinambungan hafalan.

4. Mengulang dari ayat belakang ke depan. Dan dari depan ke belakang.

5. Semuanya dibaca dengan suara hati terlebih dahulu kemudian dengan suara keras (mata dalam keadaan tertutup).

6. Begitu seterusnya. Setiap mendapatkan hafalan baru, harus digabungkan dengan ayat/halaman/juz sebelumya.

B. Sistem Jama’i.

Sistem ini menggunakan metode baca bersama, yaitu dua/tiga orang (partnernya) membaca hafalan bersama-sama secara jahri (keras) dengan:

a. Bersama-sama baca keras.

b. Bergantian membaca ayat-an dengan jahri. Keika partnernya membaca jahr dia harus membaca khafi (pelan) begitulah seterusnya dengan gantian.
Sistem ini dalam satu majlis diikuti oleh maksimal 12 peserta, dan minimal 2 peserta. Settingannya sebagai berikut:

a. Persiapan:

1. Peserta mengambil tempat duduk mengitari ustad/ustadzah.

2. Ustad/ustadzah menetapkan partner bagi masing-masing peserta.

3. Masing-masing pasangan menghafalkan bersama partnernya sayat baru dan lama sesuai dengan instruksi ustad/ustadzah.

4. Setiap pasangan maju bergiliran menghadap ustad/ustadzah untuk setor halaman baru dan muroja’ah hafalan lama.

b. Setoran ke ustad/ ustadzah:

1. Muroja’ah: 5 halaman dibaca dengan sistem syst-an (sistem gantian). Muroja’ah dimulai dari halaman belakang (halaman baru) kearah halaman lama.

2. Setor hafalan baru:

a. Membaca seluruh ayat-ayat yang baru dihafal secara bersama-sama.

b. Bergiliran baca (ayatan) dengan dua putaran. Putaran pertama dimulai dari yang duduk disebelah kanan dan putaran kedua dimulai dari sebelah kiri.

c. Membaca bersama-sama lagi, hafalan baru yang telah dibaca secara bergantian tadi.

3. Muroja’ah tes juz 1, dengan sistem acakan (2-3x soal). Dibaca bergiliran oleh masing-masing pasangan. Ketika peserta sendirian tidak punya partner, atau partnernya sedang berhalangan
hadir, maka ustad wajib menggabungkannya dengan kelompok lain yang kebetulan juz,
halaman dan urutannya sama, jika hafalannya tidak sama dengan kelompok lain maka ustad hendaknya menunjuk salah seorang peserta yang berkemampuan untuk suka rela menemani.

c. Muroja’ah ditempat:

1. Kembali ketempat semula.

2. Mengulang bersama-sama seluruh bacaan yang disetorkan baik muroja’ah maupun hafalan baru, dengan sistem yang sama dengan setoran.

3. Menambah hafalan baru bersama-sama untuk disetorkan pada pertemuan berikutnya.

4. Jangan tinggalkan majlis sebelum mendapat izin ustad/ustadzah.

IV. Keistimewaan sistem jama’i

1. Cepat menguasai bacaan al-qur’an dengan benar.

2. Menghilangkan perasaan grogi dan tidak PD ketika baca al-qur’an didepan orang lain.

3. Melatih diri agar tidak gampang tergesa-gesa dalam membaca.

4. Mengurangi beban berat menghafal al-qur’an.

5. Melatih untuk menjadi guru dan murid yang baik.

6. Menguatkan hafalan lama dan baru.

7. Semangat muroja’ah dan menambah hafalan baru.

8. Meringankan beban ustad.

9. Kesibukannya selalu termotivasi dengan al-qur’an.

10. Mampu berda’wah dengan hikmah wa al-mau’idhah al-hasanah.

11. Siap untuk dites dengan sistem acakan.

12. Siap menjadi hamba-hamba Allah yang berlomba menuju kebaikan.

V. Jaminan

1. Hafalan al-qur’an lanyah dan lancar dalam masa tempo yang sesingkat-singkatnya. (perlu bukti, admin imm).

2. Sukses dan bahagia di dunia dan akhirat.

3. Pilihan Allah dan memperoleh surga ‘adn diakhirat nanti (surah fatir:
23-24)

VI. Metode Muroja’ah (Pengulangan dan penjagaan fardhi atau jama’i)

Ayat-ayat al-qur’an hanya akan tetap bersemayam didalam hati utu al-‘ilm jika ayat-ayat yang dihafal selalu diingat, diulang dan dimuroja’ah.

Berikut ini cara muroja’ah:

1. Setelah hafal setengah juz/satu juz, harus mampu membaca sendiri didepan ustad/ustadzah dan penampilan.

2. Setiap hari membaca dengan suara pelan 2 juz. Membaca dengan suara keras (tartil) minimal 2 juz setiap hari.

3. Simakkan minimal setengah juz setiap hari kepada teman/murid/jama’ah/istri/suami dst.

4. Ketika lupa dalam muroja’ah maka lakukan berikut ini:

• Jangan langsung melihat mushaf, tapi usahakan mengingat-ingat terlebih dahulu.

• Ketika tidak lagi mampu mengingat-ingat, maka silahkan melihat mushaf
dan,

• Catat penyebab kesalahan. Jika kesalahan terletak karena lupa maka berilah tanda garis bawah. Jika kesalahan terletak karena faktor ayat mutasyabihat (serupa dengan ayat lain) maka tulislah nama surat/no./juz ayat yang serupa itu di halaman pinggir (hasyiyah).





Tips Muhasabah yang Terparameter

1 11 2009

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr :18)

Banyak yang dapat kita lakukan dalam muhasabah, dan setiap orang memiliki cara sendiri dalam memuhasabah dirinya. Seperti Hasan Basri yang memuhasabah dirinya dengan membuat lobang kubur dan masuk ke dalamnya ketika ia lemah setelah bersemangat/ malas berbuat baik kemudian ia menanyai dirinya tentang keadaan hidupnya. Jadilah orang yang pandai sebagaimana ulama kita dulu.

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Ada satu konsep penting yang mesti diperhatikan. Bahwa suatu kebaikan itu saling mengajak terhadap kebaikan lainnya. oleh karena itu, jika kita malas, atau kurang semangat, bingung akan tujuan hidup dan sebagainya, segeralah berbuat baik (apapun itu). dan jangan lupa minta kepada Alloh agar dimudahkan segala urusan dan diberikan petunjuk. Meminta kepada Alloh berarti melibatkan Alloh dalam hal yang kita hajatkan. Ketika Alloh terlibat, maka “there’s nothing impossible”. Tinggal kemudian kita berusaha keras, sekuat-kuatnya, mendaki jalan yang sukar lagi sulit, dengan segenap daya dan upaya kita sebagai salah satu “syarat terkabulnya do’a kita”.

Agar muhasabah kita terukur (memiliki parameter), bisa dilakukan langkah2 sbb:
1. carilah tempat yang tanpa gangguan untuk muhasabah, misalnya di kamar yang sepi, atau di masjid, atau di tempat yang kita agak asing di situ.

2. Bawa alat tulis dan buku khusus muhasabah. (Ini penting, agar kelak, beberapa bulan ke depan atau beberapa tahun ke depan ketika suatu saat kita ingin mengukur laju perubahan dalam diri kita, dapat dilihat di buku itu. )

3. Berdo’a kepada Allah mohon ampun, dan memohon agar dapat memuhasabah diri sebagai ikhtiar memperbaiki diri.

4. renungkan berbagai kekurangan kita dalam beribadah kepada Alloh, dalam muamalah kepada sesama dan berbagai aspek lain dalam hidup kita. (Gunakan timbangan ukhrowi saat merenungkan.).Sambil dicatat di buku kita itu. Jangan malu menuliskan kekurangan kita. Format bebas sesuai style masing2. Sebagai contoh, bisa dibagi kertas itu dalam 2 bagian. Bagian yang lebar untuk menuliskan hasil muhasabah kita. bagian yang kecil nanti untuk menuliskan solusinya.
__________ ______
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|
|_________|______|

5. Setelah merasa cukup menuliskan semua hal yang kita rasa perlu diperbaiki dalam diri kita, barulah tuliskan solusi-solusinya di kertas bagian kanan di buku khusus kita itu. Buatlah solusi yang riil (terjangkau) yang dapat kita lakukan dalam waktu dekat. Bisa harian atau pekanan. Setiap kita pastilah memiliki solusi-solusi yang berbeda bergantung dengan cara pandang kita/ pola pikir/ wawasan kita.

6. Setelah usai membuat solusi, bacalah ulang semua yang telah kita tulis tadi. Azzamkan/ teguhkan dalam diri kita bahwa kita akan menjalankan solusi2 riil itu.

7. lalu perbanyaklah ibadah dan ketaatan pada Alloh dengan terus berdo’a kepada Alloh agar memperbaiki diri kita dan meneguhkan semua ikhtiar kita dalam menuju ridho-Nya. Mintalah bantuannya ketika kita butuh bantuan diikuti dengan ikhtiar sebagai salah satu syarat terkabulnya do’a kita itu. Ikutilah setiap kesalahan atau perbuatan buruk yang kita perbuat dengan perbuatan baik. Lakukan terus menerus perbuatan baik yang dicintai Alloh sebanyak2nya.

8. Evaluasilah hasil kita dalam jangka waktu tertentu. bisa per 3 hari, lalu perpekan, dan perbulan. lakukan dengan konsisten dengan terus meningkatkan kapasitas “solusi” yang kita buat. Terus perbaiki yang kurang dalam diri, dengan terus memohon kepada Alloh.

9. Jika gagal, bangkit lagi, gagal, bangkit lagi, dan terus bangkit. jangan sampai kita menyerah karena menyerah berarti lari dari rahmat Alloh.

Sampai disini dulu.. ntar dilanjutin lagi insya Alloh..
Robbana laa ‘ilma lana illa ma ‘allam tana. Innaka Antassami’ul ‘aliim.

Wallahu’alam

(ingat rumus limit : Limit dari satu dibagi x, untuk x mendekati nol, adalah tak hingga).

Tulisan ini teruntuk Adik keduaku di bumi Alloh..





AGAR UMMAT ISLAM MEMBOIKOT SEMUA PRODUK AMERIKA KARENA DUKUNGAN NEGARA TERSEBUT KEPADA YAHUDI ISRAEL

1 11 2009

AGAR UMMAT ISLAM MEMBOIKOT SEMUA PRODUK AMERIKA KARENA DUKUNGAN NEGARA TERSEBUT KEPADA YAHUDI ISRAEL

AL-QUDS MENURUT AQIDAH ISLAMIYYAH

1. Kiblat Pertama Ummat Islam (QS 2/142-143): Yaitu sejak perintah pertama shalat malam Isra’ Mi’raj tahun ke-10 bi’tsah, 3 tahun sebelum Hijrah ke Madinah sampai dengan 1 tahun 4 bulan setelah Hijrah. Sehingga di Madinah masih terdapat mesjid Qiblatain di mana kaum muslimin shalat Shubuh menghadap ke mesjid al-Aqsha lalu pada raka’at kedua menghadap ke mesjid al-Haram.

2. Tanah Isra’ Mi’raj (QS 17/1): Pemberangkatan ini bukan tanpa hikmah atau tujuan tertentu melainkan merupakan tadbir Ilahiyyah. Kalau tidak ada maksud tertentu, maka tentulah Allah langsung memerintahkan untuk mi’raj ke sidratul muntaha langsung dari masjid al-Haram.

3. Kota Ketiga Yang Dimuliakan: “Janganlah kalian berniat untuk bepergian kecuali ketiga mesjid: Masjid al-Haram, masjid al-Aqsha dan masjidku ini.” (HR Muttafaq `alaih dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri ra.) Dalam hadits lainnya disebutkan: “Tanya para shahabat ra: Masjid manakah yang pertama kali dibangun dimuka bumi, Ya Rasulullah? Jawab nabi SAW: Masjid al-Haram. Tanya Sahabat: Lalu mana lagi? Jawabnya SAW: Masjid al-Aqsha.” (HR Muttafaq `alaih)

4. Bumi Para Nabi: Allah SWT dalam QS 17/1 menyebutkan tentang masjid al-Haram tapi tidak menyebutkan tentang “keberkahannya” , tetapi ketika menyebutkan tentang masjid al-Aqsha, DIA menyebutkan tentang “alladzi barakna haulahu”. Dan ayat ini menafsirkan QS 21/71 tentang tempatnya Ibrahim dan Luth; tempatnya Bani Israil setelah ditenggelamkannya Fir’aun pada QS 7/137; Negeri Saba’ pada QS 34/18; dan tempatnya Sulaiman pada akhirnya QS 21/81; tempat pengutusan Isa bin Maryam pada QS 95/1 (lih. al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, 22/129; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qasimi, 17/9196).

5. Bumi Jihad Kaum Muslimin di Akhir Zaman: Bahwa tidak akan terjadi Kiamat sebelum kaum muslimin memerangi Yahudi, sehingga batu dan pohon-pohon akan mengatakan kepada kaum muslimin dimana tempat persembunyian kaum Yahudi tersebut, kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi. (HR Muttafaq `alaih dari Abu Hurairah)

TIDAK SAHNYA TUNTUTAN YAHUDI ATAS BUMI PALESTINA

1. Sejarah Pencarian Negara Yahudi: Theodore Hertzl pendiri gerakan Zionisme Internasional mulanya mengusulkan Mozambique sebagai tempat akan didirikannya negara Israel Raya lalu Kongo. Max Nourdow mengusulkan Afrika, Chaim Weizman mengusulkan Uganda. Argentina juga diusulkan tahun 1897, Cyprus tahun 1901, Sinai tahun 1902. Lalu berdasarkan usulan Inggris Uganda dipilih lagi tahun 1903. Hertzl putus asa, sebab orang Yahudi tidak tertarik, akhirnya ia membakar sentimen agama Yahudi dengan mengkaitkan beberapa tempat suci Yahudi yang masih dikuasai ummat Islam di Palestina (tembok ratapan, Haikal Solomon, dll). Pendapatnya diterima setahun setelah ia mati oleh Kongres Yahudi Internasional pada tahun 1905.

2. Batalnya Klaim Historis Mereka atas Palestina Berdasar Kitab Suci Mereka: Yang pertama membangun al-Quds adalah bangsa Yabus, setelah itu bangsa Kan’an sampai dengan kedatangan Ibrahim as dengan Sarah pada usia 75 tahun, saat Ibrahim berusia 100 tahun lahirlah Ishaq (Kejadian:12) , ia wafat diusia 175 tahun tanpa memiliki tanah disana (Kejadian:23) . Saat Ishaq 60 tahun lahirlah Ya’kub. Ishaq wafat diusia 147 tahun, lalu Ya’kub pindah ke Mesir dengan anak cucunya 70 orang, saat masuk Mesir usianya 130 tahun (Kejadian:46) . Artinya masa Ibrahim sampai dengan anak cucunya yang 230 tahun mereka tidak punya tanah disana. Lalu dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa bani Israil tinggal di Mesir selama 430 tahun (Kejadian:15) , lalu mereka dihukum tidak dapat masuk ke Palestina selama 40 tahun, sehingga selama 700 tahun mereka tidak pernah punya hak di Palestina. Setelah itu barulah mereka memasuki tanah tersebut dan selama 200 tahun diperintah oleh hakim-hakim, lalu tibalah masa kejayaan mereka di Palestina selama 100 tahun (dimasa Syaul, Daud dan Sulaiman), lalu akhirnya mereka dihancurkan oleh Babylonia dan terusir. Kalau dalam masa 300 tahun itu mereka merasa berhak, maka Belanda lebih berhak atas Indonesia karena telah menjajah selama 350 tahun! Demikian pula Inggris di India. Sementara bangsa Palestina telah tinggal disana selama 1400 tahun, manakah yang sebenarnya lebih berhak?! Dari lama tinggal, maka Yahudi seharusnya mengakui Mesir sebagai tempat tinggal mereka karena telah mereka diami selama 430 tahun!

YAHUDI ADALAH MUSUH UMMAT ISLAM

1. Dalam al-Qur’an: QS 2/120, 2/74, 2/80, 2/96, 3/75, 3/181, 3/112, 5/13, 5/18, 8/56, 59/14, 7/171.

2. Sejarah: Sejarah telah mencatat pengkhianatan dan kebiadaban mereka sepanjang masa, dari sejak kemaksiatan, peperangan dan pengrusakan sampai dengan pembunuhan tahund nabi-nabi .

3. Tulisan-tulisan kontemporer: Di antaranya oleh Roger Geraudy (Mimpi Zionis dan bantahannya, Dongeng-dongeng Negara Israel), William Guy Carr (Yahudi Menggenggam Dunia), dll.

4. Fakta-fakta terakhir: Bagaimana pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap perjanjian demi perjanjian baik disponsori oleh PBB maupun AS.

YAHUDI DAN AMERIKA

1. Israel takkan mampu dibangun tanpa bantuan AS dan Barat. Bantuan dana, senjata dan dukungan politis (berupa hak veto, dsb) terus saja diberikan AS tanpa syarat sedikitpun. AS telah mengucurkan dana milyaran dolar untuk membantu Israel agar tetap dapat bertahan, bahkan baru-baru ini mengeluarkan 100 juta dollar untuk memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke al-Quds (Jerusalem) yang berdasarkan keputusan PBB merupakan hak bangsa Palestina!

2. Bahwa AS mampu membantu Israel demikian banyaknya adalah karena kekuatan ekonominya yang tersebar di negara-negara di seluruh dunia, yang sebagian besarnya berada di negara-negara Islam. Sehingga dengan membeli produk-produk apapun dengan trademark AS, maka sama dengan memperkuat kemampuan AS untuk mensuplai Yahudi Israel untuk membunuhi anak-anak dan remaj-remaja para mujahid kaum muslimin di Palestina.

3. Bahwa boikot yang kita lakukan terhadap semua produk AS adalah salah satu bentuk langkah kita melemahkan Yahudi dan salah satu bentuk jihad kita membantu kaum muslimin di Palestina untuk membebaskan al-Aqsha kiblat pertama kita.

4. Bahwa ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih di atas telah jelas-jelas memerintahkan kita untuk membantu jihad di Palestina, sehingga tidak ada lagi keraguan tentang kewajiban seluruh ummat Islam untuk berjihad membantu bangsa Palestina dengan apa saja yang mereka mampu.

5. Bahwa wajib mengumumkan dengan jelas kepada ummat Islam semua permasalahan ini, dan bahwa al-Quds adalah milik ummat Islam bukan milik bangsa Palestina saja, sebagaimana Ka’bah di Makkah.

Wasiat ini saya tulis untuk seluruh muslimin, baik penguasanya, ulamanya, maupun semua masyarakatnya agar memahami dan mensikapi masalah ini dengan jelas dan tegas. Sesungguhnya kebenaran senantiasa akan dimenangkan oleh Allah walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.

Wakana haqqan `alaina nashrul mu’minin.

(1) Dikutip dan disarikan dari Al-Quds Qadhiyyatu Kulli Muslim, Yusuf al-Qardhawi, Maktabah Wahbah, Cairo, Mesir.

“Penulis notes ini mengutip dari milis tetangga..”
Qul hadzihi sabili ad’u ila Allah…